Senin, 29 September 2014

PARASITOLOGI KUTU TIKUS

LAPORAN PRAKTIKUM
PARASITOLOGI
PEMBUATAN PREPARAT AWETAN KUTU TIKUS








AYU PERTIWI
P27833112026
NON REGULER / B

KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI DIII KAMPUS SURABAYA
Tahun 2013
PEMBUATAN PREPARAT AWETAN KUTU TIKUS
·      Lokasi
Laboratorium Parasitologi Kesehatan Lingkungan Kampus Surabaya

·      Waktu
Hari Jumat tanggal 17 Mei 2013 pukul 13.25 WIB

·      Tujuan
1.      Mahasiswa bisa membuat preparat awetan kutu yang didapat dari sampel tikus.

·      Dasar teori
Parasit adalah hewan renik (mikro) yang dapat menurunkan produktivitas makhluk hidup yang ditumpanginya. Parasit dapat menyerang manusia, hewan dan tumbuhan.
Ada lagi parasitoid, parasit yang menggunakan jaringan organisme lainnya untuk kebutuhan nutrisi mereka sampai makhluk yang ditumpangi meninggal karena kehilangan jaringan atau nutrisi yang dibutuhkan.
Tikus adalah binatang malam (nokturnal) sehingga memerlukan kepandaian khusus untuk mencari makanan, jajan dan menghindari musuh tanpa menggunakan indera mata. Oleh karena itu, tikus mempunyai alat penciuman yang tajam. Alat peraba tikus sangat sensitif karena pada waktu melakukan aktivitas di malam hari (nokturnal) sehingga alat peraba tersebut sangat penting, yaitu berupa kumis (misae) dan bulu yang panjang diantara rambut pada badannya. Alat pendengar pada tikus yang tajam dan dapat menangkap suara dengan intensitas antara 22 KHz-90KHz. Suara tertentu merupakan alat komunikasi diantara mereka. Karena sifatnya yang nokturnal, tikus mempunyai alat penglihatan yang sangat tajam. Mereka dapat melihat bentuk sederhana di dalam kegelapan sejauh kira-kira 10 m. Seperti halnya pada rodentia, tikus tidak dapat membedakan warna. Tikus merupakan binatang pengerat yang membawa bibit penyakit. Pinjal yang hidup pada tikus (Xenopsylla cheopis) membawa kuman Pasteurella pestis yang dapat menyebabkan penyakit pes.
Tikus pada umumnya mempunyai tempat tinggal berupa lubang di tanah, kayu, tumpukan batu, atau tumpukan sampah baik di dalam maupun di luar rumah. Kebiasaan tinggal tikus berbeda menurut spesiesnya.
Tikus termasuk binatang pengerat. Ciri khas binatang ini adalah rahang atas dan bawahnya mempunyai gigi seri yang terus tumbuh dan kuat, sehingga dapat digunakan sebagai alat pemotong atau pengerat. Email gigi seri hanya terdapat pada satu sisi saja, yaitu sisi yang menghadap ke arah depan.
Tikus mempunyai kemampuan untuk menggali 0,5 m pada tanah keras atau 2-3 m pada tanah gembur. Penggalian sarang biasanya membentuk suatu sistem terowongan yang spesifik. Di dekat rumah, tikus senang membuat sarang di dasar bangunan. Tikus yang tinggal berdampingan dengan manusia pada umumnya pandai memanjat. Pada waktu memanjat mereka dibantu oleh benjolan pada telapak kaki, cakar dan ekornya. Selain memanjat, tikus got dapat melompat sampai setinggi 70 cm. Kemampuan tikus yang sangat merugikan manusia adalah kemampuannya untuk mengerat dengan giginya yang tajam. Tikus mampu mengerat bahan bangunan yang keras seperti aluminium, aspal, tembok, dll. Tikus juga pandai berenang terutama tikus got yang sangat menyukai tempat basah. Bahkan tikus juga dapat menyelam selama 3 detik sehingga mereka mampu masuk ke dalam rumah melalui saluran jamban yang selalu basah. Tikus berenang dengan menggunakan kaki belakang bergantian dan menurut hasil penelitian kecepatan berenangnya sekitar 1,4 km/jam.
JENIS – JENIS TIKUS :
1.    Bandicota indica
Tikus jenis ini memiliki ciri-ciri panjang ujung kepalaa sampai ekor 400-580 mm, ekor 160-315 mm, kaki belakang 47-53 mm, telinga 29-32 mm. Rumus puting susu 3+ 3 = 12. Warna rambut badan atas dan rambut bagian perut coklat hitam. Rambut agak jarang dan rambut dipangkal ekor kaku seperti ijuk. Tikus jenis ini banyak dijumpai di daerah berawa, padang alang-alang, dan kadang-kadang di kebun sekitar rumah.Tikus ini pandai berenang dan bersifat nokturnal. Dietnya terdiri daripada biji-bijian, akar, buah-buahan dan kacang. Pandai mengorek lubang dan ada lorong atau bagian di dalam lubang itu digunakan untuk menyimpan makanan. Melahirkan anak hingga 10-12 ekor. 
2.    Rattus norvegicus
Tikus jenis ini memiliki ciri-ciri panjang ujung kepala sampai ekor 300-400 mm, ekor 170-230 mm, kaki belakang 42-47 mm, telinga 18-22 mm, rumus puting susu 3+ 3 = 12, warna rambut badan atas coklat kelabu, rambut bagian perut kelabu. Tikus jenis ini banyak dijumpai di saluran air/got di daerah pemukiman kota dan pasar. Tikus ini bersifat nokturnal serta dietnya terdiri daripada sayur-sayuran dan daging.
3.    Rattus argentiventer
Tikus jenis ini memiliki ciri-ciri panjang ujung kepala sampai ekor 270-370 mm, ekor 130-192 mm, kaki belakang 32-39 mm, teliinga 18-21 mm, rumus puting susu 3+3 = 12, warna rambut badan atas cokelat muda berbintik-bintik putih, rambut bagian perut putihatau cokelat pucat; biasanya terdapat di sawah atau padang alang-alang. Makanan utamanya serangga, anai-anai, belalang dan biji-bijian padi. Mampu melahirkan 5-7 ekor anak dalam satu-satu masa. 
4.    Rattus tiomanicus
Tikus jenis ini memiliki ciri-ciri panjang ujung kepala sampai ekor 245—397 mm, ekor 123-225 mm, kaki belakang 24-42 mm, telinga 12-29 mm, rumus puting susu 2+3 = 10, warna rambut badan atas cokelat kelabu, rambut bagian perut putih krem, biasanya terdapat di semak-semak dan kebun.
5.    Rattus tanezumi
Tikus jenis ini memiliki ciri-ciri panjang total ujung kepala sampai ujung ekor 220-370 mm, ekor 101-180 mm, kaki belakang 20-39 mm, telinga 13-23 mm, rumus puting susu 2+3 = 10, warna rambut badan atas cokelat tua dan rambut badan bawah cokelat tua kelabu. Tikus jenis ini banyak dijumpai di rumah (atap, kamar, dapur) dan gudang.
6.    Rattus niviventer
Panjang ujung kepala sampai ekor 260-270 mm, ekor 157-172 mm, kaki belakang 26-30 mm, telinga 18-22 mm, rumus puting 2+2 = 8, berambut kaku, warna rambut badan atas kuning cokelat kemerahan, rambut bagian perut putih. Ekor bagian atas berwarna cokelat dan bagian bawah berwarna putih. Terdapat di pegunungan, semak-semak, rumpun bambu, dan hutan.
7.    Rattus exulans
Tikus jenis ini memiliki ciri-ciri panjang ujung kepala sampai ekor 139-365 mm, ekor 108-147 mm, kaki belakang 24-35 mm, telinga 11-28 mm, rumus puting susu 2+2 = 8, warna rambut badan atas coklat kelabu, rambut bagian perut putih kelabu, tikus ini biasanya terdapat di semak-semak dan kebun/ladang sayur-sayuran dan pinggiran hutan. Melahirkan 1-8 anak pada satu-satu masa.
8.    Mus musculus
Ciri-ciri panjang kepala sampai ekor kurang dari 175 mm, ekor 81-108 mm, kaki belakang 12-18 mm, telinga 8-12 mm, rumus puting susu 3+2 = 10, warna rambut badan atas dan bawah coklat kelabu, tikus jenis ini biasanya terdapat dalam rumah; dalam almari dan tempat penyimpanan barang lainnya.

     TUNGAU
            KLASIFIKASI

Kingdom         : Animalia

Filum               : Arthropoda

Kelas               : Arachnida

Ordo                : Acarina

Famili              : Tertachidae

Genus              : Tertacychus

Spesies            : Tetracychus Bimaculatus

     Tungau adalah sekelompok hewan kecil bertungkai delapan yang, bersama-sama dengan caplak, menjadi anggota superordo Acarina. Tungau bukanlah kutu dalam pengertian ilmu hewan walaupun sama-sama berukuran kecil (sehingga beberapa orang menganggap keduanya sama). Apabila kutu sejati merupakan anggota Insecta (serangga), tungau lebih berdekatan dengan laba-laba dilihat dari kekerabatannya.


Hewan ini merupakan salah satu avertebrata yang paling beraneka ragam dan sukses beradaptasi dengan berbagai keadaan lingkungan. Ukurannya kebanyakan sangat kecil sehingga kurang menarik perhatian hewan pemangsa besar dan mengakibatkan ia mudah menyebar.


Banyak di antara anggotanya yang hidup bebas di air atau daratan, namun ada anggotanya yang menjadi parasit pada hewan lain (mamalia maupun serangga) atau tumbuhan, bahkan ada yang memakan kapang. Beberapa tungau diketahui menjadi penyebar penyakit (vektor) dan pemicu alergi. Walaupun demikian, ada pula tungau yang hidup menumpang pada hewan lain namun saling menguntungkan.Tungau terdapat pada hampir semua habitat. Beberapa tungau tidak membahayakan, hidup pada bahan organik yang mati atau membusuk atau sebagai predator invertebrata kecil lainnya. Sebagian lagi bersifat membahayakan karena hidup sebagai parasit pada tumbuhan, hewan dan bahkan pada manusia.








PEMBUATAN PREPARAT AWETAN KUTU TIKUS

·      Lokasi
Laboratorium Parasitologi Kesehatan Lingkungan Kampus Surabaya

·      Waktu
Hari Jumat tanggal 17 Mei 2013 pukul 13.25 WIB

·      Tujuan
1.      Mahasiswa bisa membuat preparat awetan kutu yang didapat dari sampel tikus.

·      Alat dan bahan
Ø  Alat
1.      Sisir rambut
2.      Hand scoon
3.      Masker
4.      Objek glass
5.      Cover glass
6.      Mikroskop
7.      Gelas ukur
8.      Pipet tetes
9.      Pipet volume
10.  Beaker glass
11.  Kapas
12.  Baskom
13.  Kertas putih

Ø  Bahan
1.            Clorofom
2.            Alcohol 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 70%, 96 %
3.            Entelan / Canada balsem

Ø  Cara kerja
1.      Bius tikus menggunakan kapas yang sudah berclorofom.
2.      Jika tikus sudah terbius sempurna, pegang bagian ekornya lalu angkat di atas baskom lalu sisir bagian punggung dan dada.
3.      Amati hasil dari sisiran tersebut.
4.      Jika tidak ada parasit yang jatuh dari tubuh tikus, maka letakkan tikus pada kertas putih. Biarkan hingga parasit yang ada pada tubuh tikus keluar.
5.      Jika ada parasit yang keluar dari tubuh tikus, lanjutkan pada proses clearing menggunakan alcohol secara bertahap mulai dari 10% -> 20% -> 30% -> 40% -> 50% -> 70 -> 96%.
6.      Tunggu sampai tidak bergerak.
7.      Amati terlebih dahulu sebelum ditetesi dengan entelan di bawah mikroskop dengan perbesaran 10x guna mengetahui posisi yang benar hewan parasit tersebut.
8.      Setelah benar, lanjut tetesi dengan entelan / Canada balsam menggunakan pipet tetes.
9.      Tutup menggunakan cover glass.
10.  Periksa kembali di bawah mikroskop dengan perbesaran 10x.
11.  Catat hasilnya.


Ø  Hasil dan pembahasan
Dari hasil pembuatan preparat awetan kutu tikus ternyata positive mengandung tungau, tidak ada pinjal dalam tubuh tikus tersebut.
Tungau adalah sekelompok hewan kecil bertungkai delapan yang, bersama-sama dengan caplak, menjadi anggota superordo Acarina. Tungau bukanlah kutu dalam pengertian ilmu hewan walaupun sama-sama berukuran kecil (sehingga beberapa orang menganggap keduanya sama). Apabila kutu sejati merupakan anggota Insecta (serangga), tungau lebih berdekatan dengan laba-laba dilihat dari kekerabatannya.

Ø  Kesimpulan
Dari hasil penangkapan tikus rumah tangga dan pembuatan preparat awetan kutu tikus dan setelah diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10x ternyata positive mengandung tungau, tidak ada pinjal dalam tubuh tikus tersebut. Tungau adalah sekelompok hewan kecil bertungkai delapan yang, bersama-sama dengan caplak, menjadi anggota superordo Acarina. Tungau bukanlah kutu dalam pengertian ilmu hewan walaupun sama-sama berukuran kecil (sehingga beberapa orang menganggap keduanya sama). Apabila kutu sejati merupakan anggota Insecta (serangga), tungau lebih berdekatan dengan laba-laba dilihat dari kekerabatannya.








DAFTAR PUSTAKA

http://info-peternakan.blogspot.com/2011/07/tungau-caplak-kutu-dan-pinjal-induk.html diakses hari Senin tanggal 20 Mei 2013 pukul 20.45 WIB

http://trubushijau.blogspot.com/2013/02/vertebrata-hama-tungau.html diakses hari Senin  tanggal 20 Mei 2013 pukul 20.50 WIB

http://uniqpost.com/42405/10-parasit-yang-membahayakan-manusia-dan-hewan/#_ diakses hari Senin tanggal 20 Mei 2013 pukul 21.05 WIB

            http://eprints.undip.ac.id/20097/ diakses hari Senin tanggal 20 Mei 2013 pukul 21.15 WIB

http://imamsalim2.blogspot.com/2013/04/klasifikasi-tungau_17.html diakses hari Senin tanggal 20 Mei 2013 pukul 21.20 WIB







Tidak ada komentar:

Posting Komentar