Senin, 29 September 2014

PARASITOLOGI FESES

LAPORAN PRAKTIKUM
PARASITOLOGI
PEMERIKSAAN PARASIT PADA FAESES MANUSIA








AYU PERTIWI
P27833112026
NON REGULER / B

KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI DIII KAMPUS SURABAYA
Tahun 2013
PEMERIKSAAN PARASIT PADA FAESES MANUSIA
Ø  Lokasi
Laboratorium Kesehatan Lingkungan Poltekkes Surabaya

Ø  Waktu
Praktikum Pemeriksaan Parasit Pada Faeses Manusia dilaksanakan pada tanggal 14 Maret 2013.

Ø  Tujuan
Untuk mengetahui apakah faeses yang diperiksa terkontaminasi oleh parasit khususnya telur cacing atau tidak.

Ø  Dasar Teori
Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tinggi prevelansinya terutama pada penduduk di daerah tropik seperti di Indonesia, dan merupakan masalah yang cukup besar bagi bidang kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan Indonesia berada dalam kondisi geografis dengan temperatur dan kelembaban yang sesuai, sehingga kehidupan cacing ditunjang oleh proses daur hidup dan cara penularannya.
     Parasit merupakan kelompok biota yang pertumbuhan dan hidupnya bergantung pada makhluk lain yang dinamakan inang. Inang dapat berupa binatang atau manusia. Menurut cara hidupnya, parasit dapat dibedakan menjadi ektoparasit dan endoparasit. Ektoparasit adalah jenis parasit yang hidup di permukaan luar tubuh, sedangkan endoparasit adalah parasit yang hidup di dalam organ tubuh inangnya. Parasit yang hidup pada inangnya dalam satu masa/tahapan pertumbuhannya seluruh masa hidupnya sesuai masing-masing jenisnya (Setyorini dan Purwaningsih, 1999).
Feses biasanya hanya dianggap sebagai sesuatu yang kotor dan harus segera dibuang. Tetapi, sisa dari isi perut ini (bowel movements) dapat memberikan informasi penting pada dokter mengenai apa yang terjadi ketika anak mengalami masalah di perut, usus, atau di bagian lain dari sistem pencernaan. Dokter mungkin akan meminta contoh feses untuk dites atas beberapa kemungkinan penyebab termasuk:
  • Alergi atau peradangan di tubuh, untuk evaluasi terhadap alergi protein susu pada bayi.
  • Infeksi, yang disebabkan oleh beberapa jenis bakteri, virus, atau parasit yang menyerang sistem pencernaan.
  • Masalah pencernaan seperti malabsorpsi tertentu seperti gula, lemak, atau bahan gizi lainnya.
  • Perdarahan di dalam saluran gastrointestinal.

Alasan paling umum pengujian feses adalah untuk menentukan apakah ada satu jenis bakteri atau parasit yang menginfeksi usus. Banyak organisme sangat kecil yang hidup di dalam usus. Hal ini normal saja karena organisme ini memang diperlukan untuk pencernaan. Tetapi, kadang usus dapat terinfeksi oleh bakteri atau parasit jahat yang menjadi penyebab beberapa macam kondisi seperti diare berdarah. Jika begitu, mungkin akan diperlukan pemeriksaan terhadap feses di bawah mikroskop, membiakkannya (kultur), dan melakukan tes-tes lain untuk mencari penyebab dari masalah yang terjadi.
Sebuah analisis feses adalah serangkaian tes dilakukan pada sampel (kotoran) tinja untuk membantu mendiagnosa kondisi tertentu yang mempengaruhi saluran pencernaan .Kondisi ini dapat mencakup infeksi (seperti dari parasit , virus , atau bakteri ), penyerapan gizi yang buruk, atau kanker .
Manusia merupakan satu-satunya hospes Ascaris lumbricoides. Penyakit yang disebabkanya disebut askariasis. Cacing jantan berukuran 10-30 cm, sedangkan cacing betina 22-35 cm. Stadium dewasa hidup di rongga usus muda. Seekor cacing betina dapat bertelur sebanyak 100.000-200.000 butir sehari, terdiri telur yang dibuahi, dan yang tidak dibuahi. Telur yang dibuahi, besarnya kurang lebih 60x45 mikron dan yang tidak dibuahi 90x40 mikron. Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini, bila tertelan oleh manusia, menetas di usus halus. Larvanya menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe, lalu dialirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah ke paru. Larva di paru menembus dinding pembuluh darah, lalu dinding alveolus, masuk ke rongga alveolus, kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea penderita batuk karena rangsangan ini dan larva akan tertelan ke esofagus, lalu menuju ke usus halus. Di usus halus, larva berubah menjadi cacing dewasa. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperlukan waktu kurang lebih 2 bulan (Gandahusada dkk, 1998).









Pemeriksaan Parasit Pada Faeses Manusia

Ø  Lokasi
Laboratorium Kesehatan Lingkungan Poltekkes Surabaya

Ø  Waktu
Praktikum Pemeriksaan Parasit Pada Faeses Manusis dilaksanakan pada tanggal 14 Maret 2013 pukul 09.15 WIB.

Ø  Tujuan
Untuk mengetahui apakah faeses yang diperiksa terkontaminasi oleh parasit khususnya telur cacing atau tidak.

Ø  Alat dan Bahan
·      Alat
1.   Mikroskop
2.   Pipet tetes
3.   Objek glass
4.   Cover glass
5.   Batang lidi

·      Bahan
1.      Sample faeses manusia
2.      Garam fisiologis
3.      Lugol

Ø  Cara Kerja

1.      Homogenkan terlebih dahulu dampel faeses menggunakan batang lidi
2.      Tuangkan 1 tetes garam fisiologis/lugol pada objek glass
3.      Tambahkan kedalamnya sedikit faeses yang sudah dihomogenkan
4.      Campur merata dengan menggunakan batang lidi
5.      Segera tutup dengan cover glass
6.      Lalu periksa di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 – 40 kali

Ø  Hasil dan Pembahasan
Dari hasil pemeriksaan parasit pada faeses manusia ternyata negative, tidak mengandung telur cacing.
Identitas  :
Nama               :     Ny. Rahayu

Hasil macros   :
Bau                  :     Khas
Konsistensi      :     Cair
Warna              :     Coklat kekuningan
Lendir             :     Negatif
Darah              :     Negatif

Hasil micros  :
Leukosit    :     Negative
Eritrosit     :     Negatif
Parasit       :     Negatif

Ø  Kesimpulan
Faeses manusia milik Ny. Rahayu yang diperiksa ternyata tidak mengandung telur cacing melalui pemeriksaan macros dan micros. Selain itu, pemeriksaan ini juga melatih agar dapat membuat preparat untuk pemeriksaan faeses manusia.



















DAFTAR PUSTAKA
Gandahusada, Srisasi dkk. 1998. Parasitologi Kedokteran. Balai Penerbitan FKUI, Jakarta.
Setyorini, A. C. dan Purwaningsih, E. 1999. Pengelolaan Koleksi Spesimen Zoologi. Puslitbang Biologi-LIPI, Bogor
Widyastuti, Retno dkk. 2002. Parasitologi. Universitas Terbuka, Jakarta.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar